Nah siang itu mungkin hampir jam 12 siang, saya hendak menuju Tokyo station dengan mengandalkan GPS di ponsel. Ketika hendak menyebrang jalan, tiba-tiba saya mendengar bunyi “BRUK” yang cukup keras terdengar dari tempat saya berada. Saya pun kaget dan melihat sekeliling, menoleh kesana kemari mencari tahu bunyi apakah itu. Apa barang bawaan saya jatuh kah? Atau bunyi apa ya? Dan ketika saya mengubah jarak pandang… tenyata di kejauhan sekitar 100 meter, saya melihat seseorang dengan mengenakan pakaian biru tergeletak ditengah jalan. WOW… ada apakah? Saya pun kaget dan sesegera mungkin berlari mendekati tempat kejadian.
Dalam beberapa menit suasana ditengah hujan saat itu seolah lengang. Tak seorang pun yang menolong pria berpakaian biru tersebut. Dalam pikiran saya… apakah dia meninggal? Dia terjatuh karena kesalahan sendiri? Kok tidak ada yang menolong? Tapi jika karena kesalahan sendiri, tentunya dia akan segera bangkit dan tidak terkapar ditengah jalan seperti itu kan?
Setelah saya cukup dekat dari tempat kejadian, barulah saya menyadari bahwa ternyata telah terjadi tabrakan. Pria berpakaian biru mengendarai motor dan motornya mungkin terpental hingga 5 meter jauhnya. Selang beberapa menit akhirnya ada seorang pemuda yang hujan-hujanan membantu pria tersebut untuk bangkit. Dia sepertinya berteriak meminta bantuan orang sekitar dan beberapa orang di sekitar ke tengah jalan dan membantu pria berbaju biru tersebut dan bersama-sama membimbing pria berbaju biru untuk menepi di pinggir jalan.
Saya sempat berpikir, siapa yang menabrak? Kok ga bertanggung jawab sih? Sama saja dong dengan orang Indonesia yang suka tabrak lari? Padahal kan orang Jepang yang saya tau tidak mungkin seperti itu. Ternyata… dugaan saya salah besar. Berselang agak lama pelaku memberhentikan mobilnya ditengah jalan dimana tabrakan tersebut terjadi.
Awalnya saya tidak menyadari bahwa itu adalah si pelaku tabrakan tersebut. Saya pikir dia hanyalah orang bodoh yang mobilnya mogok ditengah jalan dan cukup menimbulkan kemacetan. Karena dia menghentikan mobilnya ditengah jalan begitu saja sambil mencari-cari sesuatu di bagasi. ‘Mungkin cari dongkrak atau apa di bagasi’, pikir saya. Saya pun baru sadar ketika si pelaku yang ternyata adalah seorang wanita, mengeluarkan tanda segitiga dari bagasi. Ternyata pelaku bertanggung jawab bahkan sampai berbuat berlebihan dengan memberhentikan mobil ditengah jalan untuk menandakan sedang ada kecelakaan. Setelah memasang tanda segitiga, mobilnya didiamkan ditengah jalan begitu saja dan kemudian wanita tersebut menghampiri korban.
Selang kira-kira 10 menit datang ambulans dan polisi ketempat kejadian. Saya tidak tau apakah ambulans dan polisi tersebut dihubungi pelaku, penolong atau siapa?! Tapi yang jelas saya salut karena mereka cepat tanggap terhadap situasi kecelakaan ini.
Oke sebenarnya apa sih yang mau saya angkat dari cerita disini…
1. Saya salut akan si pelaku yang bertanggung jawab terhadap tindakannya. Entah apakah semua orang Jepang akan berbuat hal yang sama dengan si pelaku seperti yang saya ceritakan diatas atau tidak. Tetapi terlepas dari itu semua dan sejauh saya mengenal orang Jepang selama ini, conclusion saya adalah orang Jepang umumnya akan melakukan hal yang sama seperti wanita tersebut. Pelaku tidaklah lari melainkan berusaha tetap mematuhi aturan lalu lintas yang berlaku. Memutar kendaraan ditempat yang seharusnya dan tidak berhenti di sembarang tempat. Walau memang terkesan agak berlebihan dengan memberhentikan mobil ditengah jalan yang cukup menghambat lalu lintas, yang seharusnya tepikan saja mobilnya di pinggir jalan.
2. Ambulans datang dengan cepat. Jika saya membandingkan dengan Indonesia, nampaknya saya hanya akan tersenyum sinis. Yang saya tau, ambulans tidak akan datang ketempat kejadian tabrakan jika bukanlah kecelakaan besar. Bahkan umumnya yang membawa korban adalah orang lain dengan mobil pribadi. Jika kecelakaan kecil hampir tidak pernah saya melihat ambulans datang.
3. Polisi datang juga dengan cepat. Mungkin hanya berselang 1 menit setelah ambulans datang. Polisi di Jepang datang ke lokasi kejadian dan menyiapkan file serta catatan untuk mencatat kronologis kejadian. Membandingkan dengan di Indonesia… nampaknya sama saja dengan ambulans. Hanya di kecelakaan beruntun saja polisi baru turun tangan. Untuk kecelakaan kecil, sejauh saya tinggal di Indonesia polisi tidak pernah turun ke lokasi. Boro-boro meminta kronologis kejadian dan mencatat di catatannya, polisi yang ada di tempat kejadian pun paling hanya melihat, atau jika polisinya berbaik hati mungkin hanya sekedar menolong tanpa membuat laporan atau catatan formal.
Bukan bermaksud memuji negara Jepang, tetapi saya ingin mengkritisi beberapa hal, yaitu…
1. Bagaimana masyarakat Indonesia menyikapi setiap kecelakaan lalu lintas? Apakah masyarakat Indonesia sudah memiliki kesadaran sendiri untuk bertanggung jawab terhadap perbuatan yang mereka lakukan? Tak perlu melihat kecelakaan yang belum tentu semua orang melakukannya. Lihat contoh dalam kehidupan sehari-hari. Kasus korupsi, kasus suap, bagaimana masyarakat kita? Saya melihatnya bahwa masyarakat kita cenderung lempar batu sembunyi tangan. Cenderung untuk menyalahkan orang lain. Nampaknya kita sudah dididik akan hal ini sejak kecil oleh orang tua kita. Lihat saja perilaku orang tua ketika melihat anaknya terjatuh dan menangis. Siapa saja diantara para pembaca sekalian yang orang tuanya akan berkata “cup cup cup… lantainya nakal ya… pukul lantainya ya… “ Bukan begitu bukan umumnya orang tua mendidik anaknya? Saya pun mengakui bahwa orang tua saya pernah melakukan hal seperti ini ketika mendidik adik saya. Sebenarnya hal ini secara tidak langsung menanamkan ke alam pikiran bawah sadar kita bahwa kita akan selalu menunjuk orang lain ketika kita melakukan kesalahan.
2. Bagaimana peran rumah sakit dan pelayan kesehatan masyarakat di Indonesia? Umumnya ada uang ada layanan. Bagi pihak pelayan kesehatan umumnya mengutamakan uang. Contoh kasus kecelakaan di Tugu Tani dimana pihak keluarga harus membayar sejumlah uang untuk membawa pulang korban (CMIIW ya kalau saya salah akan info ini) Dimanakah hati nurani nya? Terlebih untuk rakyat miskin apakah tidak ada tenggang rasa? Lalu pelajaran dan pendidikan moral yang selalu ada di sekolah untuk apa dipelajari jika tidak mencerminkan perbuatan? Saya tidak mengatakan dan menjudge ini berlaku untuk semua. Karena saya yakin bangsa Indonesia merupakan bangsa yang baik. Saya pun yakin masih ada pihak pelayan kesehatan yang masih memiliki hati dan nurani.
3. Bagaimana peran polisi di Indonesia? Pengayom masyarakat, sudahkah berjalan sebagaimana seharusnya? Melindungi dan mengayomi masyarakat tetapi kok malah jadi ajang eksistensi diri dan unjuk kebolehan serta jadi artis mendadak?
Well… Itu saja pemikiran dan pendapat saya… Jika ada yang tidak setuju dan ingin menyanggah silahkan komentar. Jika saya salah juga mohon dikoreksi. Saya bukan tidak cinta Indonesia dengan bercerita ini semua, tetapi saya menuliskan pendapat saya agar Indonesia bisa merefleksi diri. Baik masyarakat maupun para pelayan masyarakatnya untuk menuju Indonesia yang lebih baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar