Sebuah
perjalanan kehidupan mungkin dan bisa jadi berbeda - beda antara satu
individu dengan individu yang lain. Setiap individu mempunyai
pengalaman hidup yang berbeda - beda, mulai sejak lahir, berkembang
menjadi dewasa, dan menjadi tua. Perbedaan ini mungkin disebabkan oleh
konsumsi fisik dan mental dari setiap individu berbeda dan pilihan
setiap individu untuk bereaksi terhadap rangsangan atau apa yang sedang
seseorang hadapi juga berbeda - beda.
Bagaimana
untuk menjalani hidup ini adalah sebuah pilihan. Kita pilih baju apa
yang akan dipakai, kita pilih odol apa yang dipakai, kita pilih mobil
apa yang akan kita tunggangi. Setiap tindakan yang kita ambil, itu
semua adalah pilihan yang kita ambil, itu adalah sebuah KEPUTUSAN.
Lingkungan mungkin bisa merupakan faktor yang memberikan pengaruh dalam
pengambilan keputusan. Lingkungan yang saya maksud disini adalah orang
tua, teman kita, rekan kerja kita, pemimpin kita, istri kita, anak
kita, media komunikasi lainnya, dan saya lagi yang tidak kalah
pentingnya, lingkungan internal - konsepsi yang kita bentuk dalam
melihat dunia, diri kita sendiri.
Sehingga
ketika seseorang sudah bisa mengambil keputusan sendiri atau sudah bisa
mengambil dan mengikuti kehendak bebas yang timbul dari dalam
bathinnya, maka seseorang bisa saja melakukan yang terbaik dan mungkin
saja bisa melakukan yang terburuk. Sebelum melangkah lebih jauh, saya
perlu menegaskan bahwa tulisan ini tidak ditujukan untuk menyindir,
memberi label kepada seseorang atau satu golongan, karena saya yakin
setiap orang bertanggung jawab atas dirinya. Hidup
di zaman yang serba canggih dan serba modern ini, mungkin kita akan
ditertawakan karena bercuap tentang moral..." Hari Gini.....?????. Hari
gini bicara etika ???? Kalau kita bawa mobil, lalu tidak sengaja
mengangkangi garis pembatas, mungkin ada yang akan menghampiri dan
menyapa kita. Lalu siapa yang akan menghampiri dan menyapa kita,
apabila kita mengangkangi moral ?
Dari sudut pandang akedemis, pastilah
kita akan menemukan banyak sudut pandang dan perbedaan antara moral dan
etika. Saya tidak akan membahas istlah moral atau etika secara
teoritikal atau akademis, tapi saya ingin menyorot lebih ke
praktikalnya. Mungkin
ada yang berpandangan bahwa hidup ini susah, cari kerjaan susah, dunia
usaha lagi susah, pernahkah kita bertanya kenapa hidup ini susah, apa
penyebab fenomena dalam kehidupan kita ? Kita bisa saja menyalahkan
orang lain terhadap kesusahan yang terjadi atau menimpa kehidupan kita.
Ketika kesuksesan datang menyapa, kita jadi lupa daratan, ketika
kesusahan menimpa diri kita, kita mulai mencari alasan dan kambing
hitam untuk dipermasalahkan.
Adalah
wajar untuk seseorang mempunyai harapan - harapan dan impian - impian
yang ingin dicapai dalam hidup ini. Kita mulai berpikir cara - cara
yang efektif dan efisien untuk mencapai tujuan kita. Seribu satu
strategi kita terapkan untuk memiliki apa yang kita harapkan. Maka
mulailah kita berusaha, apakah kita menjadi karyawan atau menjadi
pengusaha, kita adalah berada ditahap berusaha, we are doing something
to achieve something. Namun
yang namanya kehidupan manusia itu pastilah dipenuhi hitam dan putih.
Keberhasilan seseorang sering sekali diukur hanya dari segi materi,
maka beberapa individu mungkin karena gelap mata menghalalkan segala
cara untuk achieve apa yang diimpikan. Sehingga etika - etika bisnis
juga mulai dilupakan sebagiain orang. Seberapa persenkah orang - orang
yang menghalalkan segala cara dan melupakan etika untuk mencapai
tujuannya ?
Mari kita lihat salah satu faktor pendukung kesuksesan seseorang adalah sikap, sebagaimana market mengatakan Attitude is Everything.
Didalam sikap inilah etika - etika berperan, etika berbisnis, etika
bergaul, etika berbicara, etika berpikir, etika berprilaku, tanpa
pandang bulu apakah kita berstatus sebagai karyawan, boss, pemimpin,
guru, murid, anak, orang tua, dsb. Karena setiap orang itu bisa
melebihi satu peran. Banyak contoh - contoh yang dapat kita lihat di
masyarakat dengan prilaku yang mengangkangi etika atau moral.
Perlu
pemikiran yang bersih untuk mengerti pendapat saya, dan sekali lagi
saya tegaskan disini bahwa saya juga bukan orang suci. Katakanlah
saya mempunyai teman - temen dalam kehidupan saya, pasti donk, karena
ingin cepat berhasil, maka saya menggunakan strategi aji mumpung,
mumpung ada kesempatan saya sikat tidak perduli itu teman sendiri
apalagi bukan teman. Seiring berjalannya waktu, pola prilaku saya yang
tidak wajar tentu saja akan tercium oleh teman - teman, disinilah
fenomena kehidupan terjadi. Ada teman yang mendukung saya, ada teman
yang tidak setuju dengan apa yang saya lakukan, ada teman yang menjauhi
saya, saya yakin hal ini terjadi di masyarakat.
Di lain kesempatan,
saya mungkin akan menjadi pilihan terakhir untuk dijadikan rekan dalam
bisnis atau mungkin tidak masuk dalam pilihan sama sekali. Mungkin kita
sering mendengar ungkapan -Jadi teman boleh, jadi rekan
bisnis hati - hati. Sebisa mungkin kita tidak memberikan label pada
diri orang lain, namun pola prilaku itu akan muncul dengan sendirinya.
Maka jadilah saya sebagai orang yang susah dalam mendapatkan kesempatan
dari teman - teman saya. Ada dua point yang bisa saya lakukan,
menyalahkan teman - teman karena tidak percaya kepada saya dan pasang
cermin diri untuk memperbaiki sikap saya ? Sekali lagi ini adalah
sebuah keputusan. Semakin
banyak etika - etika yang kita langgar, kita kangkangi, semakin
terkristallah energi negatif dalam diri kita. Hal inilah yang dapat
menghambat jalan kesuksesan kita. Berusahalah untuk bertekad mengikis
pola - pola negatif yang ada sehingga kita menjadi permata yang indah.
Bukankah ini sebuah cara kita untuk menarik perhatian orang lain ? Your
decision ?
Salam sukses untuk Anda.
Johny
Tidak ada komentar:
Posting Komentar